Latar belakang saya dari keluarga sederhana.
Ayah sebagai tukang cat rumah bila ada orang membutuhkan jasa cat rumah. Ibu
seorang ibu rumah tangga, sekali-kali menerima order menjahit baju perempuan.
Pekerjaan ayah sering di rumah, jarang menerima order jasa cat, sehingga ibu
kadang-kadang marah sama anak-anak, karena kondisi ekonomi yang belum cukup. Namun bagi saya anak-anak merasa
cukup, karena telah mendapat wawasan dari ngaji, Ketika kita merasa cukup, kita
termasuk orang kaya.
Ayah cukup sabar, tidak pernah memukul kepada
anak-anaknya. Namum ibu sering marah kepada anak-anak, sehingga sering
terlintas dalam hati ingin pergi yang jauh.
Ibu yang hidup sederhana, ingin anak-anak harus
sekolah, agar kehidupan anak-anak kelak lebih baik dari kehidupan sekarang,
dimana rumah masih sewa. Rumah sewa tanpa kamar mandi. Jadi kalua mau mandi ke
pemandian umum. Saat itu kakek yang suka menjadi imam mushola harus dating
lebih awal ke Mushola, bangun tidur terus menuju ke Mushola. Saya pun setiap
bangun tidur langsung ke Mushola untuk sholat subuh. Maka tidak heran sejak
kecil sudah terbiasa sholat tepat waktu. Kadang kita selalu adzan setiap memasuki
waktu sholat. Kondisi keterbatasan ekonomi membawa hikmah sholat tepat waktu.
Saya yang mempunyai adik lima orang, 2 laki dan
3 perempuan pernah punya cita-cita ingin menjadi guru SMP, ingin masuk PGSLP
(Pendidikan Guru SLP), terus berubah ingin masuk STM (Sekolah Tehnik Menengah)
tujuan agar cepat dapat kerja. Berfikir lagi ingin masuk Universitas Brawijaya
Malang. Namanya anak muda, berubah ingin masuk SMEA, sekolah bidang ekonomi
yang cepat dapat bekerja seperti SMK. Setelah lulus SMP, melanjukan ke SMA
Negeri 1 Malang.
Kebiasan sehari-hari, setelah sholat subuh
mengaji Al-Quran di rumah ustadz Abdullah Faqih. Membantu kakek berjualan
majalah bekas, karena kakek ingin punya uang sendiri, tidak tergantung
pemberian dari anak-anaknya. Jadi sejak SMA secara tidak langsung menjadi
pedagang atau istilah sekarang entrepreneur. Namanya belajar dirumah jarang,
hanya yang diingat ketika guru menerangkan dikelas saja. Jadi wajar apabila
nila rapor sekolah biasa saja. Kegiatan di kampung, suka membaca sholawat atau
berjanji dari rumah ke rumah setiap Minggu malam. Menyiapkan sarana pengajian
malam jum’at, menjemput ke rumah ustadnya sekaligus menjemput infaq jamaah yang mau infaq rutin tiap malam
Jum’at. Malam Senin juga menyiapkan sarana pengajian di Mushola Taufiqur
Rohman. Malam hari selain Kamis dan Minggu berjualan majalah bekas juga komik.
Jadi tiap hari penuh kegiatan.
Kegiatan di SMA Negeri 1 Malang juga sibuk,
Ketika kelas 1 ikut lomba baca Alquran antar SMA, yaitu SMAN 1 Malang, SMA
Negeri 3 dan SMA negeri 4 Malang dan menjadi Juara 1 Alhamdulillah. Sehingga di
Organisasi OSIS SMAN 1 Malang ditunjuk menjadi Ketua Kerohanian OSIS SMAN 1
Malang. Ketika menjelang akhir Pendidikan di SMA, sebenarnya ingin kuliah.
Bahkan pernah test penerimaan mahasiswa di Universitas Brawijaya jurusan
pertanian. Dan ikut test di IKIP Malang
jurusan Fisika. Namun belum diterima untuk kuliah di Unibraw dan IKIP Malang.
Bekerja di Telkom
Seminggu setelah pembagian ijazah SMAN 1
Malang, ada pengumuman penerimaan karyawan dari Perusahaan Umum Telekomunikasi.
Segera mengajukan lamaran ke Telkom tersebut. Setelah melalui proses seleksi
penerimaan karyawan, didukung doa orang tua. Alhamdulillah dinyatakan lulus
bulan Desember 1981.
Sebagai rasa syukur kepada Allah SWT, setiap bulan
mengirim uang ke orang tua, apalagi saya mempunyai adik-adik perlu biaya pendidikan, ada kakek
juga saudara yang ikut di rumah,
Saat itu tidak bisa menabung, padahal ada
keinginan menabung. Ketika mau menikah,pesan ke calon istri, saya mempunyai adik-adik,
jadi saya akan tetap bantu orang tua.
Tantangan di awal pernikahan, istri sempat
kaget, mungkin uang belanja tidak sesuai harapan, tetap disyukuri dan dinikmati
proses kehidupan.
Ketika usia 25 ada keinginan nikah, walau ada
adik-adik perlu dukungan keuangan, dari segi agama, karena sudah punya
penghasilan, ada keinginan berkeluarga agar terhindar dari berbuat dosa, maka
nikah adalah wajib. Saat itu sudah ada kenalan anak karyawan Telkom Malang,
nama anaknya Heny namun saat itu saya masih minder, merasa belum cocok.
Suatu saat Ketika sedang santai di kosan,
tiba-tiba ada tamu dari Bandung, seorang perempuan sedang mencari teman saya.
Karena tidak ketemu teman saya, akhirnya saya
yang menemai ngobrol. Dan kebetulan minggu depannya saya akan ada pelatitahan
di Bandung. Sehingga bisa saling mengenal selama ikut pelatihan di Bandung.
Setelah proses perkenalan lebih kurang 6 bulan, dilanjutkan tunangan. Pada
bulan Agustus 1987 Alhamdulillah
Selama bekerja di Telkom dan setelah berumah
tangga, belum sempat menabung yang cukup karena berbakti kepada orang tua
dengan mengirim sebagian gaji ke orang tua. Namun alhamdulillah perjalanan
karir di Telkom lancar dan keluarga dikaruniai 4 orang anak, dan bisa menempuh
kuliah untuk 4 anak tersebut. Alhamdulillah. Bahkan ada yang dapat beasiswa
penuh. Di Perusahaan Telkom alhamdulillah mendapat penghargaan menunaikan
ibadah haji gratis untuk suami istri tahun 2005 ketika bekerja di Telkom Batam
Kesimpulan dari kisah diatas, dengan berbakti
kepada kedua orang tua, akan memperlancar pekerjaan dan kehidupan keluarga yang
Bahagia dan dapat menyelesaikan Pendidikan putra-putri
Komentar
Posting Komentar